Penamu, Mutanmu


Assalamu'alaikum,

Dulu, ada pepatah yang menyebutkan bahwa "mulutmu harimaumu". Namun spesial dalam kasus ini, pepatah "penamu mutanmu" lebih pas karena saya geregetan banget membahas peristiwa yang lagi heboh-hebohnya di jagat komik.

Kalo ngeh pas baca kata "mutan", kalian pasti tau blog post ini bakal mengarah ke fandom mana.

Sebagai pengingat, bahasan kali ini cukup sensitif. Saya pun menimbang-nimbang supaya blog post kali ini tetap netral dan Insya Allah nggak menyinggung pihak manapun. Maka jika paragraf selanjutnya kurang berkenan untuk kalian baca, saya minta maaf dengan segala kerendahan hati.

Pertama-tama, setiap penciller - orang yang bertugas menerjemahkan naskah menjadi sketsa komik (biasanya tugas ini diberikan oleh produsen komik besar) punya cara tersendiri untuk menyampaikan sebuah pesan yang ditujukan pada dunia, apalagi kalau mereka terlibat dalam proyek komik internasional seperti Marvel dan DC Comics. Beberapa diantaranya menyelipkan situasi yang sedang terjadi di negara asalnya dalam satu-dua simbol di satu panel komik biar pembaca internasional tahu kabar terkini selain lewat berita dan media sosial. Indonesia pun nggak mau ketinggalan meng-update kabar negara lewat easter egg atau selipan khusus di dalam komik tersebut, seperti yang mau dibahas dalam blog post ini.

Fans komik Marvel Universe khususnya X-Men sekarang lagi panas-panasnya gara-gara kontroversi seorang penciller menyelipkan easter egg berupa "QS 5:51" (surat Al Maidah ayat 51) di kaos tokoh Colossus dan angka 212 (Aksi Damai 2 Desember 2016) di salah satu halaman komik X-Men Gold. Seketika gegerlah dunia persilatan karena simbol-simbol tersebut dianggap menyampaikan isu sensitif yang menyinggung perkara agama sekaligus politik di Indonesia saat ini. Ditambah lagi kehadiran kedua simbol ini justru jadi ironi, karena seperti yang kita tahu kisah X-Men menggambarkan toleransi keberagaman dalam bermasyarakat antara manusia dan mutan. Regardless their faith. Kitty Pryde, leader X-Men diceritakan sebagai seorang Yahudi, sedangkan Colossus seorang ateis.*


Credits: Marvel
Credits: Marvel

Marvel pun mengambil tindakan tegas dengan mengakhiri kontrak kerja dengan sang penciller dan mencabut karya teranyarnya dari peredaran, kemudian diganti dengan versi baru dimana simbol itu sudah dihapus. Sayang banget sih memang, karena sebelum ini karya-karyanya diapresiasi oleh industri komik internasional termasuk Marvel, Dynamites dan DC Comics. Bahkan beliau pernah menyelipkan sosok Pak Jokowi dan Pak Ahok di baliho dalam salah satu panel komik Batman terbitan Mei 2012, berhubung di Indonesia kala itu sedang berlangsung pemilihan gubernur DKI Jakarta (kayak yang terjadi sekarang).

Satu koin punya dua sisi. Dalam kasus ini di satu sisi sang penciller mengungkapkan secuil identitas dan "berdakwah" lewat komik melalui tiga simbol tersebut, dengan harapan pembaca Muslim lainnya terutama di Indonesia mencari tahu dan memahami makna ketiganya: surat Al Maidah ayat 51, peristiwa 212 dan metafora Kitty Pryde sebagai pemimpin tim X-Men dari kaum Yahudi. Lewat simbol dalam komik X-Men Gold dia mau menyampaikan: "Ini lho, isu yang lagi terjadi di Indonesia." karena pada hakikatnya baik Indonesia maupun X-Men sama-sama mengadopsi ideologi Bhineka Tunggal Ika dalam keseharian dan ceritanya (fans X-Men, please advise jika ada yang perlu diralat yaa) sehingga mungkin saja menurutnya komik X-Men jadi platform yang dirasa cocok untuk menyampaikan pesan ini. 

Namun di sisi lain, pembaca komik X-Men nggak semuanya Muslim dan tinggal di Indonesia. Jadi wajar banget jika mereka murka ketika pesan dari simbol tersebut bertolak belakang dengan esensi X-Men yang sarat dengan keberagaman dan toleransi. Belum lagi isu agama dan politik (apalagi kombinasi keduanya) bener-bener sensitif sehingga nggak bisa sembarangan diangkat ke publik dengan bentuk visual. Khalayak tingkat nasional aja udah ribut 'disenggol' dua hal ini, tingkat internasional bisa aja lebih parah lagi. Nggak mau kan kalau produktivitas anak bangsa di jagat per-komikan terhambat gara-gara peristiwa ini? Sedih banget lho, padahal banyak komikus yang karyanya bagus-bagus dan sudah diakui internasional.

Menurut saya pribadi, simbol-simbol di atas lebih cocok jika dimunculkan dalam sketsa komik yang MEMANG ditujukan kepada masyarakat Indonesia daripada komik internasional yang publiknya belum tentu sepaham dengan pesannya (dengan catatan walaupun orang Indonesia sendiri nggak semuanya punya feedback yang sama, mereka tau dan ngerasain peristiwa ini). Contoh kecilnya aja deh, sketsa komik Konpopilan, Sukribo atau Benny & Mice yang sering menyinggung dua hal ini tapi nggak harus nyelekit karena 'main cantik' dan ditujukan kepada publik yang tepat serta paham sama kontennya sehingga pesan pun diterima dengan baik, terlepas dari si komikus berkarya di media mana. 

Buat Mas Ardian Syaf, semoga peristiwa ini bisa jadi pelajaran sehingga Mas lebih bijak memilah-milih pesan dan platform yang akan digunakan kedepannya. Mas boleh bilang karirnya berakhir gara-gara ini, tapi di masa depan akan ada waktunya Mas Ardian bisa bangkit lagi memberi 'nyawa' pada komik-komik.

Itu, kalau Mas Ardian masih ingat sama pepatah "Penamu, Mutanmu". Mengutarakan sudut pandang pribadi nggak perlu sampai menyakiti - or worse, membahayakan karir orang lain, toh?

Satu lagi, mbok ya grammar di statementnya waktu itu dibenerin, jangan bikin malu sedulur.

Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan saya mohon maaf bila blog post ini kurang berkenan. Yang mau rumpi-rumpi lebih jauh, silakan keluarin semua di kolom komentar ya!

Regards, Ratri

*) Ini hasil dari diskusi sama perwakilan Komunitas Marvel Indonesia via DM, btw

13 komentar:

  1. Hai, salam kenal :) Aku setuju kalo masalah ini adalah masalah pemilihan platform yang kurang tepat. Menjadi pengingat bahwa tidak selamanya kita harus ngotot meneriakkan siapa kita dan apa yg kita pikirkan. Biar bagaimanapun sebagai manusia kita harus punya kepekaan pada lingkungan dan sesama :) Nice post, btw. Dan saya kira cuma saya yg terganggu sama grammar-nya Mas Ardian :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Dyah! Dan yang makin nggak masuk akal adalah Mas Ardian tetep kekeuh dan belum ikhlas menerima kesalahannya. There are LOTS of things to consider than his own ideology to put into an easter egg at Marvel Comics. Temen-temenku yang ngefans sama Marvel ikutan gemes sekaligus malu liat statementnya dengan grammar yang amburadul, hehe.
      Terima kasih yaa sudah main-main ke Pensieve!

      Hapus
  2. Yah, seperti yang G. Willow Wilson katakan menanggapi kejadian ini, masnya sedang membunuh karirnya sendiri :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. If only pikiran masnya kebuka dikiiiiit aja, karirnya masih bisa diselamatkan tuh :(

      Hapus
  3. iya sih. kadang orang harus memilih kemana dia berpihak dan menunjukkan keberpihakannya. bisa jdi krn mas ardian itu melihat kasus ini sama dg kasus jokowi, sama2 politik juga. jadi kenapa dibedakan? begitu mungkin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi begitu, mbak. Cuma yang ini ada bumbu yang lebih "pedes" sehingga begitu dimunculkan publik langsung membara dan "kepedesan".
      Thank you sudah bertandang ke sini yaa :D

      Hapus
  4. mungkin komentar saya out of the box, tapi berhubungan dengan x men, yaitu film logan. dari film itu diberikan motivasi, bahwa sekuat apapun manusia, walaupun mempunyai kemampuan regenerasi yang cepat, dan tidak akan tua, maupun terluka. pada akhir nya tetap bisa mati juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes indeed, karena gimanapun juga makhluk hidup (even mutan) juga punya batas kekuatan dirinya. Bahas ah kapan-kapan:)

      Hapus
  5. Seperti ratri bilang, setiap koin memiliki dua sisi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kalo satu sisi aja dikira koin palsu ya, kak Anggi #ehgimana :D

      Hapus
  6. Mbak Ratri tulisan yang menarik! Walaupun jujur aku agak bingung. Maklum bukan fans komik wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe, tengkyu udah mampir yaaa Mbak Erny 😂

      Hapus
  7. Benar sih kalau nulis sudah bersentuhan dengan unsur SARA, jadi ruet deh jadinya! Diatrik akhirnya komik tu kan. Mungkin maksud penulis bukan seperti itu, tapi pemikiran pembacakan beda-beda ya mbak! Oia, thanks ya, sudah mengulasnya. Jadi saya tahu perkembangan komik di Indonesia tu gimana.

    BalasHapus

Komentar boleh, nyampah gak jelas jangan ya :D