Fan Fiction: Menjemput sang Juwita (Part 1)


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun suasana di ruang makan kediaman keluarga Black masih ramai dengan ide-ide untuk melindungi para penyihir dari kejaran Voldemort. Dan yang membuatnya lebih ramai, tentu masakan Mrs. Weasley yang luar biasa enak dan bikin seluruh anggota Orde Phoenix ketagihan. Sambil menyantap kue-kue kering yang baru dibuatnya sore tadi, Sirius, Lupin, Kingsley Shacklebolt, Nymphadora Tonks dan Alastor "Mad-Eye"  Moody sedang merundingkan cara menjemput Harry dengan aman dari Privet Drive, yang rencananya akan dilaksanakan lusa. Sebagian anak keluarga Weasley--Fred, George, Ron dan Ginny turut terlibat dalam perundingan tersebut walau hanya mendengarkan.

Sejak kabar Dementor mulai berkeliaran di London menyebar, Ron mengkhawatirkan nasib kedua sahabatnya, Harry dan Hermione. Namun berhubung rencana penjemputan Harry sudah dibicarakan dan akan terlaksana dua hari lagi, ia agak lega. Sekarang tinggal Hermione yang membuatnya kuatir: apakah ia akan tersesat jika dia mendatangi Grimmauld Place? Entahlah. Ayam kremes buatan sang ibu tak lagi menggugah selera makannya gara-gara memikirkan juwita hatinya itu.

"Ron, ayo dong ayam kremesnya dimakan..udah Mami masakin lho buat kamu..."ujar Mrs. Weasley sambil mengusap punggung putranya.
"Mami kayak gak tau Ron aja. Dia baru mau makan kalo udah ada Hermione, hahaha!" goda George.
"Iya! Bawaannya pengen liat jendela terus..gitu tuh Mi kalo dia lagi galau." sambung Fred sambil menyeduh kopinya.
"Atau malah kangen, haha..Fred, galau itu bukannya permainan Muggle yang dimainin rame-rame itu, ya?"
"Bukan, galau itu kalo Papi lagi marah-marah.."
"Itu galak! Hahaha!" imbuh George, kemudian ia dan Fred menuju ruangan lain.

"Oh iya, ngomong-ngomong soal jemput menjemput, perasaan masih ada satu lagi deh, sebelum Harry. Siapa ya?" ujar Tonks usai menelan suapan terakhir ayam kremesnya.
"Hermione? Oh iya, untung kamu ingetin, hampiir aja lupa kesebut."kata Lupin.
"Dan dia mesti dijemput...malem ini juga! Nah loh, siapa nih yang bakal jemput? Bentar lagi kan rapat Orde, mana bahasannya penting lagi!" kata Sirius, nadanya terdengar sedikit panik.
"Weasley aja yang jemput, nanti saya sama Tonks deh yang ngedampingin." ujar Moody santai, menuju ke arah Ron dan Ginny.
"Weasley yang mana bro? Kalo yang kembar mah saya gak yakin nih.." kata Kingsley.
"Wah, kayaknya sampeyan sepikiran ama inyong ini. Ron, kamu jemput Hermione aja ya, malem ini. Gak bisa ditunda lagi soalnya..ya, ya?" bujuk Sirius, menyetujui maksud Moody.
"Sa..saya?" Ron sedikit tak percaya dirinya diamanahi menjemput Hermione ketika kerinduannya sedang memuncak, malam ini. Sebenarnya dia senang, namun karena ia belum ingin menunjukkannya di depan umum, ia meredamnya.
"Udahlah, sesekali jemput cewek gak apa-apa kok. Sekalian malem mingguan...biar jalan kaki yang penting greget."
Ucapan Kingsley benar-benar membuat Ron salah tingkah, ditambah lagi pandangan iseng yang dilontarkan sang adik.
"Baiklah, Hermione saya jemput." kata Ron singkat. Tak disangka, suasana ruang makan kembali ramai akan sorakan. Kemudian, Ron, bersama Moody, Tonks dan Ginny berangkat ke rumah Hermione.

Selama di perjalanan, Ron selalu berada di paling depan kala yang lain mulai mengeluh kelelahan. Saking senangnya, bahkan ia tak menyadari berapa kali Ginny memintanya berhenti untuk istirahat sebentar.
"Ron, elo gak capek apa jalan gak berhenti-berhenti?" tanya Ginny, nafasnya terengah-engah.
"Sabar, Dek. Lagian udah disuruh tidur sama Mami malah nekat ikut..bentar lagi nyampe kok." kata Ron, setengah meledek Ginny.
"Dia mah lima kilometer berasa lima sentimeter, kali. Demi Granger seorang gitu.." imbuh Moody.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan rumah Hermione. Bimbang antara mengetuk pintu di tengah malam atau menerobos lewat pintu belakang, mereka terpaku di depan rumah bertingkat dua dan dipenuhi sulur tanaman itu. Tepat di pojok kiri atas, terdapat sebuah jendela terbuka dengan Hermione yang terlelap di dekatnya...yang membuat Ron kian terpana.

Bukannya berusaha mengetuk pintu, Ginny, Tonks dan Moody malah bingung mengapa Ron terus menatapi jendela terbuka yang ternyata kosong itu.
Entah apa yang terlintas di bayangan Ron kala melihat jendela kamar Hermione terbuka lebar. Tiba-tiba, ia melepas jaketnya dan menyerahkannya kepada Ginny tanpa memalingkan pandangannya.
"Dek, titip jaket." ujarnya singkat, kemudian tanpa ragu melangkahkan kakinya ke halaman rumah keluarga Granger. Parahnya, Ron langsung memanjati tanaman sulur yang menjalari dinding luar rumah itu, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan selama ia bisa melihat Hermione sehat walafiat untuk dibawa ke Grimmauld Place.

Takjub melihat polah tingkah Ron, Ginny dan Tonks sontak bersorak-sorai seakan mereka sedang berada di Piala Dunia Quidditch.
"Ayoooo...dikit lagiiiii! Kamu pasti bisaa!"
"Panjat terooos! Lumayan tuh, buat tujuhbelasan nanti!"
"Rooooonald Weasley! Jeng jeng jeng jeng jeng! Rooooonald Weasley! Jeng jeng jeng jeng jeng!"
"Yeye lalala yeyeye lalalala!"

Moody naik darah melihat kehebohan dua perempuan ini, sehingga mata palsunya membelalak ke segala arah, memastikan tidak ada Muggle yang bangun. Moody makin terkejut kala mengetahui Ron terlihat seperti maling waktu memanjati sulur itu. "Ya ampun, kalian alay banget seeeeh! Rombongan bangunin sahur aja kalah! Gak nyadar apa di atas sana ada apa?!"

Ginny dan Tonks terdiam, kemudian menyadari apa yang Moody maksud. Awalnya Ginny  terheran-heran mengapa abangnya sampai senekat itu, padahal sosok Hermione bahkan tidak ada di sana. Kecapekan kali..apa kangen? pikirnya. Saat ia memandang Tonks dan Moody, mereka juga berpikiran sama.

"Itu Ron ngapain sih manjat-manjat?"
Terdengar suara lain nan lembut Hermione dari depan Ginny, sehingga mereka bertiga terkejut menyadari keberadaannya di depan rumah.
"Lho, Hermione?! Kirain kamu di..." kata Ginny.
"Ron, turun! Aku di sini!" teriak Hermione. Ron tidak berpaling dari sulur yang dipanjatnya dengan nafas terengah-engah.
"Tenang aja, Hermione...hhh... bentar lagi hhh...hhh...aku nyampe kok...kamu sabar yaaa..."

Hermione, Ginny dan Tonks makin tercengang, sementara Moody menepuk keras keningnya. Memuncak sudah kesabarannya menangani tingkah rekan seperjalanan yang super ajaib ini. "Janggut Merlin...nyampe markas di ruqyah aja deh ama Sirius...untung bukan anak gue..."ujar Moody sembari menggeleng dan membalikkan tubuhnya.

"Fix banget dia halusinasi, gara-gara kecapean jalan jauh tuh demi kamu...sabar ya.."kata Tonks pada Hermione.
"Nggak apa-apa kok, kadang dia begitu kalo kecapean, tidur aja sampe ngigo.."balas Hermione, mengenang masa-masa menonton Piala Dunia Quidditch saat Ron mengigau karena terlalu lelah menonton pertandingan hari itu.

"Rooon, Hermione-nya di sini niiih! Turun siniiiii! Hadeeh.... Spiderman gagal.."ujar Ginny.
Akhirnya Ron tersadar saat melihat sosok Hermione di bawah sana, memandangnya penuh kekhawatiran. Sontak dia kehilangan keseimbangan, kemudian jatuh ke rerumputan. Sakit sekali rasanya, namun demi sang juwita hati, Ron rela menahannya hingga sampai ke Grimmauld Place. Hermione langsung menghampiri Ron, lalu membantunya berdiri.
"Kamu nggak apa-apa? Parah nggak sakitnya?" tanya Hermione cemas sembari menggamit lengan Ron.
"Aku baik-baik aja kok. Ini nggak ada apa-apanya dibanding nggak bisa jemput kamu malem ini." balas Ron, tersenyum lebar pada Hermione, yang membalas dengan senyum manisnya.

Bintang bertaburan di langit London, membuat perjalanan pulang Ron, Hermione, Ginny, Tonks dan Moody makin menyenangkan--atau romantis, bagi Ron dan Hermione. Ketika jalan-jalan kota London mulai sepi , tiba-tiba Moody menghentikan Tonks dan Ginny, yang berada tepat di belakang Ron dan Hermione yang sedang berbagi canda di bawah temaram lampu jalanan. Suara mereka bergema seakan berada di gua, tangan mereka bergandengan. Ketika sudah mendekati Grimmauld Place, Hermione sudah kelelahan dan mengantuk rupanya. Maka Ron menggendongnya  tanpa memedulikan rasa sakit di punggungnya akibat jatuh tadi. Sejenak, Moody, Tonks dan Ginny menyaksikan keindahan dunia mereka berdua.

"Beruntunglah kita, walaupun jadi kambing congek pemandangan di depan kita ini...ah...bakalan jarang ada di masa yang serba suram ini." kata Moody, tersenyum lembut memandang dua sejoli, seakan itu dirinya dan sang kekasih di masa muda, walau hanya dalam angan.
"Aku setuju, Alastor. Nanti bakal kuceritain ini ke orang-orang Orde, supaya mereka bisa tersenyum mengingatnya kalo lagi mumet. Duh..coba itu aku ya.." kata Tonks menerawang.
"Eeeh... kode buat siapa tuh? Hehe.." goda Moody. Pipi Tonks memerah, kemudian ia terkikik dan menundukkan kepalanya karena malu.

Ginny hanya bisa tersenyum bangga melihat sang kakak bisa se-gentleman itu dan tak sabar untuk menceritakan semuanya pada Fred dan George sesampainya mereka di Grimmauld Place. Dan ya, tentunya memeluk Ron erat-erat sambil berkata "Oppa, gue bangga sama lo!" sebelum tidur.

Sesampainya di kediaman keluarga Black, Ron menggendong Hermione dengan amat hati-hati ke kamar atas, tempat para gadis beristirahat. Tanpa ia ketahui, si kembar Fred dan George mengintai dari belakang. Sama seperti Ginny, Tonks dan Moody, keduanya takjub sekaligus geli melihat tingkah laku adik kecil mereka.
"Nyangka gak sih, George, dia bisa se-sweet itu sama cewek? Hermione pula..." kata Fred.
"Dulu mah boro-boro..sama Ginny aja jarang.. Sebagai kakaknya gue bangga sama Ron kalo ngeliat dia begini." kata George.
"Yoi. Enaknya kita apain ya buat nunjukkin rasa sayang kita ke dia? Kesian tau dari kecil kita bully melulu.."
Sesaat, George memandang ke arah ruang makan dimana anggota Orde Phoenix sedang rapat, lalu beralih kepada saudara kembarnya dan berkata:
"Gue tau."

Suara deru nafas Hermione di punggungnya amat terasa, meredam suara riuh rendah rapat Orde di ruang makan. Telinga kiri Ron terasa geli tiap semilir  udara hangat berembus dari hidung Hermione, membuatnya ingin berlama-lama di tangga menikmati saat-saat berdua tanpa pertengkaran, tanpa gangguan, dan tanpa Harry. Sayangnya, saat itu harus berakhir dalam beberapa menit dan Ron harus beristirahat. Mumpung tidak ada siapapun di lantai dua, Ron tak henti-hentinya nyengir lebar sembari membuka pintu kamar tamu yang tadinya hanya ditempati Ginny dan Tonks.
Dengan hati-hati, Ron meletakkan Hermione di kasur setelah membuka selimut tebal yang masih tersusun rapi, membukakan sepatunya, kemudian akhirnya menyelimutinya. Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Ron lakukan, namun ia ragu-ragu sehingga kala ia beranjak meninggalkan kamar wajah Hermione yang sedang terbuai mimpi tak pernah lepas dari pandangan matanya. Damai sekali. 
Andai suatu saat gue bisa puas-puasin ngeliat wajah itu tiap bangun tidur...Heh! Kesambit apaan sih gue ngayal ginian? Udahan wey, tar dia bangun terus ngira gue ngapa-ngapain... pikir Ron saat membuka pintu kamar. Duh, meninggalkannya terasa lebih berat dari badan Hermione yang tadi digendongnya.

Tanpa menyadari kehadiran kakak-kakak, tuan rumah dan beberapa anggota Orde di ujung tangga, Ron kembali membuka pintu kamar, lalu melakukan hal yang tadi sempat ia ragukan:
"Selamat malam, Hermione."
"MALAM JUGA RONAAALD!"

Ron terkejut luar biasa melihat Fred, George, Sirius, Lupin, Moody, Ginny, Tonks dan Kingsley tertawa terbahak-bahak setelah melihat aksi beraninya. Untung tidak ada orang tuanya, dan lebih untungnya lagi, Ron tidak sedang ingin ke toilet.
"Cieeeeeeeeeeeeeh! Kalo gue jadi Hermione gue bakal bangun dan nyium elo! Beneran!" seru George.
"Yoiii! Luar biasaa....Hermione mimpi indah nih, haha!" kata Fred.
"Wah, gak salah nih aku minta kamu ngejemput! Ternyata malah bikin rumahku ceria! Hebaaaaat, hahahaha!!" ujar Sirius sambil bertepuk tangan. Sudah terlalu lama ia tidak tertawa lepas sehingga tawanya terdengar paling kencang.
"Ngomong-ngomong, tadi Ron ngegendong Hermione di punggung, padahal sebelumnya dia jatoh, lho! Aku sampe mupeng.." kata Tonks, melirik malu-malu ke arah Lupin.
"Tonks! Jangan lempar kode mulu kenapa sih?! Tapi serius lho... dia kuat banget gendong Granger. Pas berangkat juga nggak pernah ngeluh capek!" kata Moody.
"Wow! Kamu bisa romantis juga, ya, ternyata! Bagus, bagus..lanjutkan, Ron!" kata Lupin.
"Tuh, kan, apa kubilang, ini namanya keajaiban malam Minggu! Bikin Patronus pasti lancar karena inget ini!" imbuh Kingsley.

"Aku nggak tau nih harus tersinggung atau tersanjung..tapi..makasih ya, semuanya..selamat malam." kata Ron, wajahnya merah padam menahan malu, lalu masuk ke kamarnya di sebelah.

"Selamat malam, Ron. Semoga Hermione muncul di mimpimu, hihi!" ujar Tonks.
"Well..berkat dia misi 'Menjemput sang Juwita' berhasil telak. Kalau misi buat lusa apa ya, namanya? 'Menjemput Tamu Teristimewa'? Hahaha!" canda Lupin.
"Bisa jadi, bisa jadi! Ini mencerahkan sekali lho, Remus. Lumayan daripada suntuk." kata Sirius. Seluruh anggota Orde menuruni tangga dan kembali rapat dengan senyum merekah.

Ginny menghambur masuk ke kamar Ron dan memeluknya erat-erat, disusul Fred dan George di belakangnya.
"Naneun oppa ga jalang seuleowo*!" kata Ginny dalam dekapan sang kakak. Hanya ibu mereka yang tahu bahwa dua anak terakhirnya menggunakan bahasa Korea sebagai bahasa rahasia karena mereka mendengarkan radio drama Korea saat masih balita. Ron balas mendekap sang adik, membelai rambutnya.
"Nado, dongsaeng-i. Nado**."balas Ron.
"So sweet amat, ikutan bisa kali!" kata Fred, lalu memeluk kedua adiknya.
"Kita kan bangga juga sama lo, Ron. Aaawww...berpelukaaaan!" tambah George, ikut memeluk mereka, lama sekali.
"Gue dan George sadar banget lo udah gede. Tapi kita gak mau lo terlalu cepet, makanya tadi lo kita godain biar asik dikit..."kata Fred.
"dan lo seenggaknya punya kenangan bahagia selama orang-orang yang sayang sama lo masih ada." sambung George.
"Hehe..gue tau kok. Tapi jangan sampe bokap-nyokap tau soal ini. Sumpah tadi gue malu banget." kata Ron.
"Malu-malu tapi seneng kan lo? Misinya sampe dinamain 'Menjemput sang Juwita' segala, hihihi.." balas Fred. "Oiya, ngomong-ngomong..." lanjutnya sambil menunjuk ke arah Ginny yang sudah terlelap di dekapan Ron.
"Kayaknya ada yang salah sama badan lo deh, Ron. Sekalinya ada yang nempel, pasti langsung molor. Tadi Hermione, sekarang Ginny. Jangan-jangan besok Harry!" bisik George, lalu merebahkan kepalanya di pundak kanan Ron. "Pantesan....badannya empuk gini ternyata. Fred, coba deh. Gue udah ngantuk aja loh...Hoahmmm..."

Fred ikut rebah di pundak kiri Ron, kemudian menguap. "Hoahmmmm....iya bener...malem ini tidur sini aja yuk.. lo peluk-able juga ternyata."
"Woi, pegel ini badan gue ditempel lo-lo pada..woi..." ujar Ron, agak kesal namun pasrah tubuhnya menjadi 'bantal' dadakan bagi saudara-saudaranya.

Beberapa saat kemudian, Mr. dan Mrs. Weasley mengintip pintu kamar dimana keempat anaknya tidur berpelukan, lalu pergi dengan setitik air mata haru. Malam itu, Grimmauld Place nomor 12 kembali diwarnai kehangatan yang telah terlalu lama tak dirasakan penghuninya. Bahkan Sirius Black tidur nyenyak sambil tersenyum. Sisa keceriaan semalam pun berlanjut hingga esok hari, kala Ron dan Hermione tak henti-hentinya digodai seluruh penghuni Grimmauld Place sehingga menjadi salah satu kenangan paling menyenangkan yang pernah mereka miliki, dengan kata kunci "Menjemput sang Juwita".



*) Aku bangga sama kakak!
**) Aku juga, Dek. Aku juga.





4 komentar:

  1. Uwogh! Fan fictionnya keren. Gue Potterhead juga loh. Betewe Ayam Kremesnya gak kepikiran :))

    BalasHapus
  2. iya, biar 'beda' dikit ff-nya :)

    BalasHapus
  3. Haha bagus ff nya, dengan bahasa yg asik dan mudah dipahami :p

    BalasHapus

Komentar boleh, nyampah gak jelas jangan ya :D