Cinnamon (Tamat)

Januari
Bulan demi bulan berlalu. Singkat cerita, kedekatan antara Bian dan Raisa kian menjadi seusai ospek universitas. Jadwal kuliah yang nyaris berbarengan di semester baru memungkinkan mereka untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama; Bian jadi hafal betul letak rumah Raisa berkat aktivitas antar jemput yang akhir-akhir ini menjadi 'ritual wajib'nya, bahkan tak heran jika pembantu atau orang rumah Raisa mengenali deru mobil Swift Bian dari ujung jalan.

Dan yang lebih menyenangkan lagi bagi Bian, dia jadi kenal dan disambut baik dengan keluarga Raisa, begitupun sebaliknya.Sebetulnya Bian sedikit jenuh dengan kebiasaan barunya,bahkan Raisa sudah mengganggap Bian pacarnya. Sikap inilah yang membuat Bian sedikit tidak nyaman dengan Raisa, karenanya dia ingin Sashi menilai Raisa ketika mereka bertiga berada di kafe,nanti.
 Sementara Sashi, dengan kesibukan barunya sebagai ketua panitia pameran kebudayaan fakultas sedikit terlupakan dari keseharian Bian walau masih berkomunikasi lewat BBM dan Twitter.

Hari ini, giliran Raisa bertandang ke rumah Bian selepas kuliah karena ingin meng-copy hasil foto selama ospek kemarin yang ada di laptopnya. Ratusan momen-momen yang dibekukan lensa itu Bian dapat dari teman-teman dokumentasi, dan kebanyakan diantaranya ada foto-fotonya dengan Raisa. Foto Bian dengan Sashi juga ada beberapa, namun Bian memilih untuk menyimpannya di folder tersembunyi.

Ketika Raisa sedang mengklik beberapa foto untuk di-copy ke flash disk miliknya, Bian teringat janjinya untuk mengajak Raisa ke kafe dimana dia dan Sashi menyeruput kopi dan batang kayu manis kesukaan mereka. Walau sering menghabiskan waktu bersama, entah mengapa Bian justru mengurungkan niat untuk mengajak Raisa ke sana hingga kini.

"Cha," Sejak keduanya semakin dekat, Bian memanggilnya dengan sebutan Icha, panggilan yang hanya Raisa peruntukkan kepada orang-orang terdekatnya. Raisa menoleh, menatap wajah Bian mesra seakan keduanya sudah resmi pacaran. "kamu lagi banyak tugas minggu ini?"tanya Bian lembut.
"Nggak, kenapa Bi?"ujar Raisa dengan suara serak-serak basahnya.
"Kamu mau ngopi sama aku Sabtu besok?"
"Boleh banget,Bi. Berdua aja?"Raisa tampaknya bersemangat diajak ngedate, berhubung Raisa juga cukup lama menjomblo.
Bian menggeleng. "Bertiga, sama Sashi. Nggak papa kan?"
Raisa menatapnya lama,tanpa ekspresi.
Jantung Bian berdetak keras menanti jawaban dari gadis itu. "Well..berhubung Sashi sahabat kamu kayaknya makin rame makin seru." jawab Raisa kalem, walau Bian tahu dia tidak sepenuhnya tulus mengatakannya setidaknya hubungannya dengan Raisa bisa lebih serius tanpa harus mengganggu persahabatannya dengan Sashi.

Maka malam harinya, Bian menelepon Sashi. Lama-lama kangen juga dia pada sahabat karibnya ini.
"Yes, Bi? Tumben telfon." suara Sashi di seberang sana terdengar sengau, namun tetap jenaka seperti biasanya.
"Lagi sibuk apa neng?" Bian mengempaskan tubuhnya di tempat tidur di kamarnya yang super berantakan.
"Urusan pameran, untungnya udah 90%, jadinya makin rempong deh sekarang, hahaha. Kenapa?"
"Hari Sabtu gue jadi ngopi sama Raisa, dan sesuai janji waktu itu, lo nemenin gue yah,Sas,pleaaasee..."
"Widiih, udah tambah deket ceritanya?"
"Yaah gitu deh Sas. Udah dianggap calon mantu sama ortunya, padahal ditembak aja belom,makanya gue rada risih,tapi gak enak.."
"..."
"Sas? Kok diem?"
"Bi..gue takut gak bisa deh Sabtu besok, mendingan entar lo laporan aja abis ngopi.."suara Sashi terdengar parau.
"Iya sih bisa, tapi emang lo ada acara apaan sih Sabtu ini?" Gue kangen lo, Sas, batin Bian tanpa mengucap lewat bibirnya. Bian merasa kecewa, namun mengangkap sesuatu yang tidak beres pada sahabatnya.
Sashi menghela nafas berat. "Ada urusan sama Fathir, tapi paling cuma sebentar. Kalo sempet gue usahain dateng, ok? Take care, Bi. Good luck for the date."
KLIK. Pembicaraan dua sahabat pun berakhir sedingin segelas kopi di meja belajar Bian yang nyaris tak tersentuh.

Padahal lo udah janji sama gue Sas..gue beneran butuh lo..pikir Bian sambil menatap langit-langit kamarnya. Entah bagaimana dia lebih menantikan kehadiran Sashi ketimbang Raisa, yang jelas-jelas memiliki perasaan yang sama padanya. Sadar pikirannya makin kalut, Bian memutuskan untuk tidur.

Sabtu sore, seperti yang sudah dijanjikan Bian dan Raisa menikmati waktu berdua di kafe, menyeduh kopi pesanan masing-masing. Sejak tahun berganti, hujan memang sering turun membasahi Jakarta dan sekitarnya. Suasana kafe yang nyaman seharusnya membuat momen romantis antara Bian dan Raisa, namun sebaliknya, Raisa yang sedang asyik berkelakar mengenai pengalamannya ketika ikut Midnight Sale di salah satu mal papan atas di ibukota berulangkali harus menegur Bian karena tidak mendengarkan ceritanya.


"Bi, kamu mikirin apaan sih? Aku ngomong gak didengerin?"Raisa sedikit kesal karena Bian terus melamun, memandangi titik-titik hujan di luar jendela. Namun tak lama kemudian Raisa paham, Bian memikirkan Sashi sejak tadi--bukan, bahkan kemarin ketika mengobrol di kampus. Dan saat itu pula Raisa mengetahui perasaan Bian pada Sashi, yang selama ini begitu dalam bersembunyi tanpa ketahuan siapapun.
Diam-diam diliriknya BB yang selama ini berada dalam gengamannya. Sebuah berita mengejutkan dari beberapa teman panitia terpampang di layar sejak beberapa menit yang lalu, ketika sedang asyik bercerita:


Sashi meninggal karena kecelakaan di daerah Radio Dalam,arah Pondok Indah.
Seketika, mata Raisa memanas, dan dengan suara terbata-bata ia memanggil Bian.
"Bi..kamu yang tabah ya..Sashi.."
Bian tersadar dari lamunannya ketika nama Sashi disebut. Betapa terkejutnya ia mendapati wajah Raisa sudah basah oleh air mata. Tanpa berkata-kata lagi, tulang di tubuh Bian luluh lantak, jantungnya serasa berhenti.

Tak ada lagi yang bisa diucapkannya kecuali "Innalillahi wa innalillaihi roji'un.." dengan nada lirih,disertai air mata.


Dua Minggu Kemudian
Titipan dari Zahra barusan diterimanya: sekeping cakram berisi rekaman suara Sashi masih terkungkung dalam discman, yang dia ketahui adalah milik Sashi. Dipasangnya headset di atas kepalanya, kemudian dipencetnya tombol play. Cakram pun mulai berputar,kemudian hadirlah Sashi, dalam wujud suara.


"Bi.."

Betapa nyata suara Sashi di telinganya, seolah tengah berbicara tepat di hadapannya. Bian terkesiap, matanya kembali memanas.
"Inget gak waktu terakhir kali ngopi bareng, pas gue keselek itu?"

Inget banget, bahkan ekspresi muka horor lo itu. batin Bian. Kenapa Sas? 

"Sebenernya gue syok,secepet itu lo dapet gebetan, si Raisa pula. Sejak itu gue tau kenapa setiap pleno lo memilih duduk seenggaknya di deretan depan: biar bisa deket-deket Raisa kan? Hehe, ngaku deh lo!"

Yah, ketauan deh. Maaf ya gue nggak cerita-cerita. Bian tersenyum getir.

"Gue awalnya seneng karena akhirnya lo bukan lagi cowok yang suka gegalauan ke gue, dan Raisa sebenernya cewek yang baik banget..tapi di sisi lain gue sakit hati Bi..dan gue sangat,sangat minta maaf karena  gak cerita bahwa gue dan Fathir udah putus karena dia lebih mentingin kerjaannya, sementara gue lebih mentingin persahabatan kita. Apalagi sejak lo cerita ke gue dengan hati berbunga-bunga tentang Raisa, gue berusaha keras untuk ngasih advice terbaik buat lo dan berhasil. Dan makin lama lo makin jarang cerita..gue pun malah tambah kangen sama lo, sama saat-saat ngopi yang dulu spesial buat kita berdua sebagai sahabat.Waktu mengatakan pepatah setelah ngopi terakhir, gue cuma mau lo tau, kalo gue pengen jadi pengharum hidup lo,apapun kondisi lo..karena sebenernya gue..sayang banget sama lo,Bi. Terima kasih udah mau mendengarkan pengakuan sahabat lo yang super gombal ini. I love you, Bian."


Seiring hujan menghampiri jendela kafe untuk yang kesekian kalinya, semerbak wangi kopi dan batang kayu manis berpadu menyeruak ke hidung Bian, yang kini basah oleh air mata. Sashi pergi begitu cepat, terlalu cepat bahkan. Meninggalkannya dalam keadaan sakit hati,karena tak diberi kesempatan mengutarakan perasaannya pada Sashi, sahabatnya yang telah mengharumi hidupnya hingga kini, ketika wujudnya tak lagi ada.


Ya, Sashi adalah "cinnamon" bagi Bian: harum kehadirannya membuat hidup Bian makin bermakna. Dan Bian sangat berterimakasih untuk itu.


-TAMAT-
 
Dilarang menyebarkan "Cinnamon" tanpa izin penulis, hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Sesama blogger dan reader tolong saling menghargai yaa :D

12 komentar:

  1. Serius, aku sedih bacanya endingnya. Terutama paragraf setelah "2 Minggu Kemudian".

    Overall, ini cerita yang manis, tapi alurnya agak terlalu cepat, hehe. Ditunggu cerita2 lainnya. Gara2 kamu posting cerita bersambung gini, aku jadi pengen ikut2an. :p

    BalasHapus
  2. terima kasih sarannya Alvi, hehehe ayo dong kamu bikin juga :D

    BalasHapus
  3. kaka...


    KEREEEENN GILAK!!! aku merinding bacanya, bukan karna takut, tapi terharu #halah
    ga nyangka si Sashi meninggal gitu~

    BalasHapus
  4. kenapa akhiranya gini kak ratri :O
    padahal udah dikira2 bakal jadian ama shasi -.-

    tapi keren kok ceritanya :)

    BalasHapus
  5. hihihi..emang sengaja alurnya di twist biar pada kaget,hehehe..based on true story soalnya :')

    BalasHapus
  6. kyaaaaa, berkaca-kaca nih mata, yah Sashinya pergi :'(
    sedihh,,

    BalasHapus
  7. Seharusnya mereka bisa jadian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kalo emang gak jodoh mesti gimana lagii..*yang nulis aja nyaris gak tega 'matiin' Sashi :'(*

      Hapus
  8. sashi *___*

    well kalau based nya dari true story, pasti bakal sedih banget.

    btw nice story, gak sia-sia gue ikutin :)

    BalasHapus
  9. Terima kasiiih banget gak bosen-bosennya gue ucapin pada kalian yang udah penasaran, geregetan, ngikutin cerita dan ngasih apresiasi buat #Cinnamon, insya Allah, cerpen ini bakal gue masukin ke buku kumcer, dan nama kalian gue sebutin. Love, Ratri :D

    BalasHapus
  10. What a story! Pesan moralnya, kalau ada rasa lebih baik jangan dipendam kali ya, enak diungkapkan aja biar nanti ga nyesal :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. merci! iya banget, bus besides that ada perasaan tulus dari persahabatan Bian dan Sashi :)

      Hapus

Komentar boleh, nyampah gak jelas jangan ya :D