Geisha: Seni Kehidupan Perempuan


Ga tau mau ngapain buat ngelepas stress karena lari-lari maraton di siang bolong (serius,karena remedial ujian praktek lari 12 keliling ), daripada mantengin layar kompi ga jelas akhirnya gue memutuskan untuk nonton film berlatar Jepang--ya, entah kenapa makin hari makin seneng sama film ginian-- di YouTube. Meskipun lagi penasaran setengah mati sama "Seven Samurai"nya Akira Kurosawa dan "The Last Samurai", pilihan gue jatuh pada sebuah judul feminin nan gemulai, se-gemulai ceritanya: Memoirs of a Geisha.

Film yang dibintangi Zhang Ziyi ini udah agak lama sih, rilisnya,tapi daripada nonton video gak jelas akhirnya gue pantengin juga. Bercerita tentang kehidupan geisha kondang Sayuri Nitta, dari awal kehidupannya sebagai anak nelayan miskin di Yoroido lalu dijual dan dibesarkan di okiya (rumah geisha) sampai dia sendiri berhasil jadi geisha berkat bantuan seniornya, Mameha. Tapi meski udah jadi geisha paling top markotob jalan hidupnya nggak semulus kulitnya,saudara-saudari. Udah dipojokin mulu sama Hatsumomo,dilecehin sama seseorang yang awalnya dia pikir bisa dijadiin danna("pacar"), okiya-nya kebakaran dan yang paling nyesek adalah Sayuri harus mengorbankan cintanya pada si akang Ketua demi tuntutan profesi walaupun ujung-ujungnya jadi juga.

Secara artistik ini film breathtaking banget,dengan alur selambat gerakan tari Jawa (lah kok nyasar gini sih) gue ikut menghayati seluk-beluk kehidupan geisha walaupun rada ngebosenin.

Selama ini geisha sering disalahartikan sebagai "kupu-kupu malam" karena aktivitasnya rata-rata berlangsung di malam hari,tapi sebenernya nggak juga lantaran tugas geisha sebenarnya adalah menghibur dengan menyanyi, menari,dan main musik, itupun juga gak bisa asal-asalan dan butuh latihan.
Seperti yang dibilang Mameha, "geisha adalah seni berjalan",seorang geisha harus seanggun seni,lebih dari sekedar nyanyi-nari-main musik. Ditambah lagi setiap gerakan juga mesti diperhatiin mulai dari cara jalan, membungkuk, melihat,ngomong, nuang teh bahkan cara tidur tanpa bikin berantakan biar tetep elegan,jadi diluar nyanyi-nari-main musik geisha nggak boleh grasa-grusu,ntar dikira laki. Ilmu komunikasi dan marketing juga kepake banget,mulai dari cara melayani pelanggan secara profesional, nanggepin sindiran dari saingan, promosi,sampe ngadepin pelanggan yang minta 'lebih'. Intinya, modal cantik plus kimono bagus nggak cukup!

Well, meskipun kali ini gue ngebahas geisha, bukan berarti kita juga mesti jadi geisha biar bisa se-elegan itu. Geisha hanya perumpamaan, salah satu wujud perempuan di satu sisi dunia. Tapi filosofi bahwa
cewek adalah salah satu masterpiece,begitu juga seni. Dua-duanya indah, oleh karena itulah geisha adalah seni kehidupan perempuan. Nilai-nilai keanggunan geisha bisa jadi salah satu acuan buat cewek-cewek--yang nggak cuma cantik, tapi pinter dan punya attitude yang charming bagi setiap orang yang pernah melihatnya.

Regards, Ratri


3 komentar:

  1. postingannya keren deh.
    geisha kan resmi, ga kaya 'kupu kupu malam'
    di Indonesia.

    BalasHapus

Komentar boleh, nyampah gak jelas jangan ya :D